Kalimat itu menghantam saya dengan kekuatan yang tidak terduga. Karena di balik kalimat itu, saya mendengar suara jutaan orang Indonesia yang setiap tahun memasuki masa pensiun dengan perasaan yang sama campuran antara kelegaan dan kehilangan, antara kebebasan yang dinantikan dan kekosongan yang tidak pernah diantisipasi.
Dan pertanyaan itu mulai mengusik saya, mengapa sebuah fase kehidupan yang seharusnya menjadi puncak dari segala pengalaman dan kebijaksanaan yang telah dikumpulkan selama puluhan tahun justru seringkali terasa seperti akhir bukan awal? Jawabannya, saya percaya, terletak pada sebuah narasi lama yang sudah saatnya kita gantikan. Narasi yang mengatakan bahwa pensiun berarti berhenti. Bahwa usia menentukan relevansi. Bahwa produktivitas hanyalah milik yang muda. Narasi inilah yang buku ini hadir untuk menantang, mendekonstruksi, dan akhirnya menggantikan dengan narasi yang jauh lebih membebaskan dan jauh lebih benar.
Anggota IKAPI No. 034/BAI/2022
Jl. Raya Puri Gading Cluster Palm Blok B-8 Kuta Selatan Jimbaran, Badung, Bali